MITONI DALAM PERGELARAN ALA KINANTI SEKAR

Gelapnya malam ditandai dengan lentera-lentera kecil yang berpijar menampakkan nyalanya. Hawa dingin menelisik sendi-sendi tubuh, apalagi c...

Gelapnya malam ditandai dengan lentera-lentera kecil yang berpijar menampakkan nyalanya. Hawa dingin menelisik sendi-sendi tubuh, apalagi cuaca habis hujan. Tak mengurangi asa penonton datang terus bertambah, turut mengambil ruang untuk membaca perhelatan yang digelar, menambah kehangatan malam. Semua mata tertuju pada sosok perempuan berkain cinde warna kuning dengan rajut harum bunga melati membungkus bahunya, ia berjalan dituntun seorang pria berbusana Jawa (Yogyakarta). Tampak bagian perut perempuan itu sedikit menonjol, pertanda ada sosok kecil yang berlindung dalam kehangatan rahimnya. Setapak demi setapak mereka menaiki jalan bebatuan tanpa alas kaki, menikmati langkah demi langkah reflektif atas perjalanan hidupnya.

Karang Klethak malam itu terasa khidmat. Beberapa orang berpasang-pasangan turut berbaris berjalan melalui tanjakan, jalanan yang licin, sempit, turunan sambil mengucapkan beberapa gugus kalimat dengan rampak dalam intonasi suara yang datar. Beberapa diantaranya membawa dupa. Barisan terakhir sebelum penonton diisi oleh 6 (orang) gadis berbalut kain cinde dengan warna yang berbeda menjadi bagian yang tak terpisahkan. Omah Petruk menjadi saksi presentasi doa dari ibu serta keluarganya bagi janin berusia tujuh bulan yang tentu menjadi pelengkap kerenyahan canda tawa mereka kelak.  Sosok kecil yang bermakna besar itu sungguh dinanti bahkan telah mencuri perhatian orang-orang, malam itu dirinya mendapatkan banyak doa serta berkat.

Manusia Jawa selalu berurusan dengan hal simbolis dalam mempresentasikan rasa syukur, meminta berkah, dan meminimalisir rintangan yang akan terjadi. Begitu pun halnya dengan upacara mitoni, sebuah ritus daur hidup ketika kehamilan menginjak bulan ketujuh menuju kedelapan. Dalam budaya Jawa hingga kini,  peringatan tujuh bulanan menjadi hal yang paling diperhatikan dari rangkaian ritus kehamilan lain seperti neloni, ngapati, nglimani, ngenemi dan sebagainya. Tujuh dalam bahasa Jawa disebut pitu sehingga diasumsikan sebagai pitulungan  (pertolongan). Hal ini lah yang dipresentasikan oleh Kinanti Sekar Rahina pada Sabtu, 17 Desember 2016 malam di Omah Petruk. Sekar sebagai penari dan koreografer, menampilkan pertunjukan berbasis ritual yang dialektis.

Tarian Pembuka
Iring-iringan penari tampak turun dari tangga dalam langkah yang tenang bersahaja. Merah, kuning, jingga, kuning, ungu, hijau, dan kuning adalah warna yang dipilih sebagai busana yang membalut tubuh. Masing-masing penari mengenakan satu warna. Bagi saya warna itu seolah disajikan sebagai pengganti  sebuah komposisi dari warna-warni jagad. Ketika kehamilan datang tak pelak bukan hanya rasa bahagia yang datang, meskipun bahagia itu yang mendominasi. Segala harapan hingga kecemasan datang silih berganti. Refleksi pada hal yang telah lalu, bagaimana mengahadapi masa kini, serta persiapan untuk menyambut yang akan datang. Tujuh warna itu seperti halnya pergantian kain hingga tujuh kali dalam upacara mitoni yang berkembang di masyarakat Jawa, khususnya Yogyakarta.  Pemilihan warna kuning dan melati rajut di bahunya yang berwarna putih mengingatkan saya pada warna sebuah telur bulat, sebuah tanda awal kehidupan.

Tubuh digunakan Sekar sebagai medium penuangan ekspresi dan sugesti positif pada diri sekaligus si jabang bayi juga pada penonton. Sebab pertunjukan itu bagi saya mengakomodir sudut tonton yang nyaman.  Sebagian besar gerak mengahadap ke arah penonton baik rampak dalam kesatuan kelompok penari maupun ketika Sekar tampil menari dan nembang. Syair dalam tembang yang dibawakan dan pemilihan beberapa gerak disajikan dengan lugas sehingga mengerucutkan interpretasi terkuat mengenai doa.

Kain sampur panjang menjuntai di sebelah kanan, sisa dari yang terikat di perut. Dalam satu bagian tertentu sampur itu dilepas melintang, diangkat, diputar, dilekatkan pada tubuh, disilangkan, dilepaskan bak tali pusar yang menjadi ‘mainan’ pertama jabang bayi dalam kandungan ibu. Tali pusar yang menjadi jalurnya mendapatkan makanan, namun sekaligus dapat menghalanginya untuk lahir dengan aman. Tanpa dapat terlihat dan terkontrol oleh orang lain, maka komunikasi yang dibangun oleh ibu diharapkan dengan harapan bayi bisa membuka jalan yang melilitnya. Disitulah salah satu saat kecemasan, kemudian diartikulasikan Sekar dalam gerak yang membersamai komunikasi pada anak.

Gerak enam penari disusun dengan padat, kadang dalam hitungan singkat berisi beberapa gerak, namun diimbangi dengan gerak berputar perlahan. Sekar mampu mencuri perhatian mata melalui energi gerak yang disajikannya secara tunggal. Ia pun dalam beberapa bagian turut menari rampak pada beberapa motif gerak, meskipun ketika Sekar menari dengan menghemat gerak tubuhnya berbicara dalam setiap sendi tampak keibuan. Enam gadis penari, yang nantinya akan menjadi seorang ibu juga, diajak Sekar untuk menari dan memahami perasaan seorang ibu yang tengah mengadung. Tentu mentransfer pengalaman empiris ini tidaklah mudah, bagaimana membuat mereka merasakan di dalam perut ada yang menendang dan mengalami pergerakan setiap harinya. Di sisi lain, Sekar juga dalam tahap transisi untuk nantinya bertanggung jawab atas kehidupan orang lain yang bergantung padanya. Semasa gadis tentu dirinya lebih leluasa bergerak, baik gerak secara fisik maupun dalam arti aktivitas.

 Ritual yang ditonton
Jawa mewariskan ritus daur hidup pada masyarakatnya. Berbagai macam keberagaman muncul dari desa satu dan desa yang lain, kemudian juga diadopsi sebagai ritual dalam Kraton termasuk Kraton Yogyakarta. Tiap daerah memiliki persamaan dan perbedaan tahapan dalam proses ritual yang dijalani, seperti siraman, berganti pakaian tujuh kali, brojolan cengkir, dan lain-lain. Semnuanya dikerjakan dalam sebuah ujub doa keselamatan dengan makna filosofisnya masing-masing. Sekar pada pertunjukan Mitoni-nya menarik benang merah pada sebuah doa keselamatan dan harapan baik untuk ibu juga jabang bayi.
Ritual menunjukkan harapan, doa, juga bersifat suci karena menjadi media komunikasi dengan Sang Pencipta. Ritual disertai tahapan atau hal tertentu sebagai  syarat sah ritual itu dilakukan. Hal yang dititikberatkan adalah memanjatkan doa atas hal yang ingin dicapai. Manusia terlihat sebagai makhluk yang kecil ketika dihadapkan pada kebesaran alam raya.  Komunikasi mikrokosmos dan makrokosmos menjadi hal yang dirasa penting untuk tercapainya keseimbangan. Pada kulturnya, hadir sesuatu yang menjadi manifestasi Ilahi sehingga mampu memperkuat sugesti serta keyakinan atas tercapainya doa dan harap yang diunjukkan.

Usai menari bersama 6 calon ibu, Sekar bersama sang suami berjalan meniti setapak demi setapak berkeliling dalam medan naik dan turun. Penantian jabang bayi untuk hadir dalam rahimnya pun dilalui dalam keadaan penuh harap hingga kesabaran yang teruji. Turut di  belakang mereka sekitar sepuluh pasang laki-laki dan perempuan membawa lilin membaca gugusan kalimat dalam intonasi suara datar, tampaknya itu mantra, dikontrakan dengan lantunan kidung malam. Perjalanan yang kemudian terhenti pada sebuah pendhapa di sisi kiri. Joko Santosa tampak telah menanti di area tengah pendhapa beserta segala ubarampe-nya, seperti tumpeng dengan lauk pauknya satu ukuran besar di tengah dan empat tumpeng kecil mengitarinya. Penonton mengelilingi area pendhapa, ada yang naik di sisi terluar, ada pula yang mengamati dari jauh. Saat Ibu dan Ayah jabang bayi duduk bersimpuh di pendhapa suasana pun menjadi khidmat seiring asap kemenyan yang mengepul, penonton mulai mengurangi suara-suara. Beberapa diantaranya mengambil posisi untuk mendokumentasikan momentum ini baik dengan kamera maupun telepon pintarnya, untuk disimpan sementara atau langsung diunggah di media sosial. Usai memanjatkan doa, Sekar melanjutkan prosesinya dengan membasuh wajah dengan air genthong tepat di depan pendhapa. Kemudian berjalan beriringan melepas merpati, hingga akhirnya prosesi brojolan cengkir sekaligus pembukaan pameran seni rupa dalam tema yang sama yakni Mitoni. Beberapa penonton terus mengabadikan momentum ini, ada pula yang berfoto selfie dengan latar belakang aktivitas prosesi. 

Meramu
Seluruh pergelaran Mitoni Sekar saya lihat dalam dua bingkai yang terpisah pertunjukan dan ritual. Tarian pembuka sebagai sebuah pertunjukan yang berpijak dari sebuah harapan serta doa dalam bingkai mitoni, sedangkan bagian ritual saat dilangsungkan doa di sebuah pendhapa yang berada di sisi kanan. Lalu diakhiri dengan pembukaan pameran seni rupa yang juga mengambil tema sama. Apabila diambil dari titik tarian pembuka hingga akhir memiliki rute perjalanan ke arah kiri yang berarti melawan pergerakan jarum jam, menjadi sebuah refleksi sembari melantunkan mantra doa.


Serangkaian pergelaran yang disajikan ini terlihat bak suita, terdiri dari tari yang dikoreografikan oleh Sekar, ritual oleh Joko Santosa, dan pameran seni rupa. Hal yang saya soroti bahwa ketiganya dalam bidang yang berbeda menonjol dalam porsinya masing-masing. Bukanlah sebuah kesatuan yang dikerjakan bersama dalam satu rangkaian panjang pergelaran. Sekar, Joko Santosa, dan para seniman seni rupa secara bergantian menjadi fokus pada wilayah masing-masing. Berbagai disiplin tampil dalam satu wacana tema yang sama namun disajikan dengan alur perjalanan. Bukanlah meramu menjadi satu dari beberapa unsur itu, namun menawarkan sajian yang dapat mengakomodir penonton yang memiliki ketertarikan pada masing-masing bidang.   Atribut-atribut Mitoni yang berkembang dalam masyarakat beberapa diserap lalu dituang pada simbol yang dikemas dalam bentuk seni, beberapa yang lain ditampilkan apa adanya. *** Galih Prakasiwi

COMMENTS

Name

RESENSI TARI,1,
ltr
item
Kawung Art Culture: MITONI DALAM PERGELARAN ALA KINANTI SEKAR
MITONI DALAM PERGELARAN ALA KINANTI SEKAR
Kawung Art Culture
https://kawungartculture.blogspot.com/2017/01/mitoni-dalam-pergelaran-ala-kinanti.html
https://kawungartculture.blogspot.com/
https://kawungartculture.blogspot.com/
https://kawungartculture.blogspot.com/2017/01/mitoni-dalam-pergelaran-ala-kinanti.html
true
7363386054878948841
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy